SISTEM PERKEMIHAN
Fungsi kandung kemih pada periode pascanatal dini perlu
dinilai. Trauma yang dialami oleh kandung kemih selama persalinan biasanya
menyebabkan edema dan hiperemia kandung kemih, yang tonus ototnya berkurang
selama kehamilan. Efek pada kandung kemih meningkat pada partus lama, pemakaian
forsep, prosedur analgesia dan anestetik, serta tekanan oleh bagian presentasi
janin selama persalinan. Hilangnya secara transien sensasi kandung kemih, yang
dapat menyebabkan peregangan berlebihan dan pengosongan inkomplet, dapat
berlangsung beberapa hari sampai beberapa minggu. Perubahan pada kandung kemih
dapat menyebabkan peningkatan risiko infeksi saluran kemih pada masa nifas.
Trauma pada sfingter kandung kemih meningkatkan frekuensi inkontinensia sires,
yang ditandai oleh kebocoran urine saat pasien batuk, tertawa, melakukan gerakan
mendadak, atau berolahraga.
Apabila fungsi kandung kemih terganggu, sebuah kateter menetap
(indwelling) dapat dipasang agar jaringan yang rusak dapat pulih ;
namun, kateterisasi meningkatkan risiko infeksi saluran kemih (ISK). Apabila
uterus teraba tinggi atau tergeser ke salah satu sisi selebih pasien berkemih,
mungkin terjadi retensi urine karena kandung kemih yang penuh akan mendorong
uterus. Hal ini diperberat oleh peningkatan diuresis yang terjadi pada masa pascanatal
akibat pengurangan volume plasma yang selama hamil meningkat. Wanita yang
sering berkemih adalah normal, asal urine yang dikeluarkan setiap kali berkemih
banyak. Peningkatan frekuensi berkemih, tetapi dengan jumlah urine terbatas,
mungkin menandakan adanya retensi urine.
Nyeri yang berkaitan dengan berkemih mungkin menandakan ISK.
Dilatasi ureter, peregangan berlebihan kandung kemih, serta inst rumen last
atau persalinan dengan operasi, semuanya meningkatkan risiko infeksi. Pada hari
ke-10, fungsi kandung kemih harus diamati dan dinilai; seyogianya tidak ditemukan
tanda inkontinensia spontan.
Parameter sistem ginjal, misalnya aliran plasma ginjal, laju
filtrasi glomerulus, dan kreatinin plasma, kembali ke kadar normal prahamil
pada pemeriksaan minggu ke-6. Ekskresi vitamin dan mineral melalui urine normal
dalam minggu pertama setelah persalinan. Kadar renin dan angiotensin plasma
menyesuaikan diri dengan hilangnya hormon janin yang memengaruhi pengendalian
keduanya sehingga kadar turun dan meningkat sebelum kembali ke normal
(Blackburn & Loper, 1992). Fluktuasi kadar hormon yang memengaruhi retensi
air ini, disertai oleh redistribusi cairan tubuh, menyebabkan natriuresis dan
diuresis, yang terutama mencolok pada hari ke-2 sampai ke-5 pasca persalinan.
Keseimbangan cairan dan elektrolit kembali normal dalam 21 hari setelah
melahirkan. Oksitosin, yang memiliki aktivitas mirip ADH, turun setelah persalinan
sehingga diuresis meningkat. Volume urine yang dikeluarkan setiap kali
berkemih meningkat dan banyak wanita mengalami keringat malam pada masa nifas,
yang juga meningkatkan pengeluaran cairan. Perubahan pada sistem kemih yang
diinduksi oleh kehamilan mungkin menelap selama beberapa bulan. Walaupun otot
polos saluran kemih yang berdilatasi tampak normal dalam seminggu setelah
persalinan, otot polos tersebut tetap berpotensi teregang. Ginjal kembali ke
ukuran prahamil dalam 6 bulan setelah persalinan.
SISTEM
PENCERNAAN DAN DEFEKASI
Selama persalinan, motilitas lambung berkurang, terutama
akibat nyeri, rasa takut, dan obat narkotik. Penurunan tonus sfingter resofagus
bawah, penurunan motilitas lambung dan peningkatan keasaman lambung menyebabkan
perlambatan pengosongan lambung. Tonus dan tekanan sfingter esofagus bawah
kembali normal dalam 6 minggu setelah persalinan. Namun, pada masa nifas dini, penurunan
tonus otot dan motilitas saluran cerna dapat menyebabkan relaksasi abdomen,
peningkatan distensi gas, dan konstipasi segera setelah melahirkan.
Defekasi pertama biasanya terjadi dalam 2 atau 3 hari setelah
persalinan. Hal ini dapat dipersulit oleh adanya hemoroid, yang menyebabkan
gangguan evakuasi. Akibat etek progesteron pada sistem vena, aliran darah
mungkin melambat karena pembuluh menjadi lebih berkelok-kelok sehingga hemoroid
sering timbul pada separuh terakhir kehamilan. Hemoroid biasanya pulih cepat
setelah persalinan dan hanya menimbulkan gangguan ringan pada masa pascanatal.
Kadang-kadang, terutama apabila parah, akibat pendorongan oleh bagian
presentasi bayi yang lewat melalui jalan lahir hemoroid dapat mengalami trauma
dan timbul trombosis lokal. Hal ini dapat semakin rumit apabila terjadi
konstipasi dan karena trauma perineum, wanita masa nifas takut membuka/ melemaskan
anusnya. Masalah konstipasi diperberat oleh atoni usus, otot abdomen yang
lemah, asupan makanan yang tidak teratur, dan dehidrasi akibat persalinan. Pada
hari ke-10, fungsi ususharussudah kembali normal. Inkontinensia feses mungkin
mengisyaratkan kerusakan sfingter anus atau pcrbaikan yang tidak adekuat.
PERUBAHAN
BERAT BADAN
Walaupun setelah pengeluaran produk konsepsi berat badan
berkurang, banyak wanita mengalami peningkatan berat badan pada beberapa hari
pertama setelah persalinan. Hal ini disebabkan oleh kombinasi peningkatan ACTH,
ADH, dan stres, yang semuanya meningkatkan retensi natrium dan air. Berat biasanya
mulai turun sejak hari ke-4 setelah persalinan karena diuresis meningkat. Berat
badan terus menurun, biasanya selama beberapa bulan, Retensi berat badan
pascapartus lebih dipengaruhi oleh perubahan dalam gaya hidup selama dan
setelah kehamilan daripada oleh kehamilan itu sendiri (Ohlin & Kossner,
1994). Penurunan berat badan cenderung lebih besar pada wanita dengan paritas
rendah, usia yang lebih muda, dan berat badan prahamil yang lebih rendah.
PERUBAHAN
STRUKTUR LAIN
Segera setelah melahirkan, vagina tampak halus, lunak, dan
edema. Elastisitas jaringan kembali dalam beberapa hari. Karena vagina memiliki
vaskularisasi eksterisif, episiotomi dan robekan biasanya cepat sembuh. Rugae
vagina kembali terbentuk, tetapi kurang menonjol dibandingkan sebelum hamil.
Labia mengalami regresi ke keadaan yang kurang menonjol dibandingkan dengan
wanita nulipara. Penurunan estrogen pada persalinan menyebabkan epitel vagina
menjadi lebih tipis dan banyak wanita mengalami masalah dengan lubrikasi vagina
segera setelah melahirkan. Sisa himen tetap ada dan diberi nama karunkula
mirtiformis.
Kekuatan otot dasar panggul dan pengendalian neuromuskulusnya
lebih terganggu dan mengalami trauma mekanis yang lebih besar pada wanita yang
melahirkan per vagina, terutama pada minggu pertama masa nifas (Peschers et al,
1997); namun, bagi sebagian besar wanita, tonus dan kekuatan otot kembali
normal dalam 2 bulan. Melemahnya otot sirkum vagina berkaitan dengan keadaan
perineum, episiotomi, lama kala dua persalinan, berat bayi, dan teknik
pendorongan (Cosner, Dougherty, & Bishop, 1991). Masalah yang berkaitan
dengan dasar panggul yang inefektif, misalnya prolaps uterus, inkontinensia
urine, dan prolaps rektum meningkat seiring dengan jumiah paritas. Latihan
dasar panggul membantu memulihkan tonus otot dan fungsi dasar panggul; mungkin
diperlukan nasihat dari ahli fisioterapi obstetrik apabila masalah
inkontinensia menetap.
Dinding abdomen mungkin tetap lunak dan kendor selama
beberapa minggu. Peregangan yang berlebihan, misalnya pada kehamilan multipel
atau polihidramnion, dapat menyebabkan kelemahan otot yang menetap. Sendi dan ligamentum
panggul yang melunak secara perlahan kembali ke normal selama beberapa bulan.
Striegravidarum menjadi lebih pucat dalam beberapa bulan, tetapi hanya memudar
dan tidak menghilang.
Perubahan pada kulit yang ditimbulkan oleh kehamilan secara spontan
berkurang atau memudar. Setelah persalinan mungkin terjai kerontokan rambut dan
pertumbuhan kembali, mula-mula mungkin tidak selebat semula. Kepekaan dan tekanan
korne kembali ke normal dalam 2 bulan setelah persalinan. Kongesti hidung dan
efek pada telinga dan laring pulih ke keadaan prahamil dalam beberapa hari
setelah persalinan.
SUHU TUBUH
Dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, suhu tubuh mungkin
meningkat sedikit (380C) sebagai respon terhadap stres persalinan,
terutama dehidrasi. Fluktuasi suhu ini biasanya transien; peningkatan suhu yang
menetap mungkin menandakan infeksi (lihat selanjutnya).
TIDUR
Masa nifas berkaitan dengan gangguan pola tidur, terutama
segera setelah melahirkan (Swain et al, 1997). Tiga hari pertama dapat
merupakan hari yang paling sulit bagi ibu akibat penumpukan kelelahan karena
persalinan dan kesulitan beristirahat karena nyeri perineum (lihat Studi kasus 14.3).
Nyeri perineum pascapartus berkorelasi erat dengan durasi kala dua persalinan
(Thranov et al, 1990). Euforia, jasa tidak nyaman di payudara, kandung kemih, dan
perineum, serta gangguan bayi, semuanya dapat menyebabkan kesulitan tidur, yang
dapat mempengaruhi daya ingat kemampuan psikomotor. Secara teoretis, pola tidur
kembali mendekati normal dalam 2 atau 3 minggu setelah persalinan, tetapi ibu
yang menyusui mengalami gangguan pola tidur yang lebih besar (Quillin, 1997).
KEADAAN
PSIKOLOGIS
Biasanya ibu dan bayinya sudah membentuk suatu siklus makan dalam
10 hari. Walaupun rasa lelah merupakan hal yang umum dan normal, ibu harus
mengembangkan strategi untuk mengatasi hal ini, misalnya tidur di siang hari. Ibu
harus secara independen merawat diri dan bayinya serta interaksi secara penuh
dengan anggota keluarga dan yang lain. Anak memberi ibu rangsangan yang memicu
aksi emosi dan respons perilaku; penelitian komparatif mengisyaratkan bahwa
respons nurturing (pengasuhan) ini dipertahankan secara evolusi (Stern,
1997).
Banyak wanita kehilangan libido (dorongan seks) selama berapa
bulan pertama setelah persalinan. Hal ini mungkin sulit oleh trauma pada
saluran reproduksi selama persalinan. Nafsu, ekspresi, dan kepuasan seks
mungkin berkurang setelah melahirkan. Aktivitas seksual mungkin dipengaruhi
oleh kelelahan, perubahan citra tubuh, penyesuaian dalam perkawinan,
dispareunia, menyusui, tabu tradisional, perdarahan atau rabas vagina,
kurangnya lumasan, atau takut membangunkan bayi.
STUDI KASUS
Sandra baru pertama kali menjadi ibu dengan melahirkan
seorang bayi laki-laki sehat 3 hari yang lalu. la pulang pada hari persalinan
karena tampaknya mampu menyusui dan merawat bayinya dengan baik. Bidan
mengunjunginya pada hari ke-3 dan menemukan Sandra, suami, dan bayinya dalam
keadaan tertekan. Mereka kekurangan tidur dan bayinya cengeng dan sulit tidur.
-
Apa penyebab fisiologis yang mungkin berperan
menimbulkan situasi seperti ini?
-
Apa yang meyakinkan bidan bahwa segala sesuatunya
normal dan bantuan, nasihat, atau dorongan apa yang dapat diberikan bidan kepada
keluarga tersebut selama masa sulit ini?
PEMULIHAN
FERTILITAS
Wanita yang tidak munyusui mulai mendapat haid, secara rata-rata,
sekitar 55 sampai 60 hari setelah melahirkan dan mengalami ovulasi sekitar 40 sampai
50 hari setelah melahirkan (Wang Fraser, 1994), sementara menyusui menunda
ovulasi sampai 30-40 minggu setelah persalinan dan haid sampai 8-15 bulan,
bergantung pada durasi dan tingkat menyusui. Sebagian wanita menjadi hamil
sewaktu amenorea menyusui, tetapi derajat penekanan fertilitas bergantung pada
pola menyusui bayi dan mungkin pada nutrisi ibu. Etek Laktasi pada kesuburan berkurang
seiring meningkatnya waktu antara menyusui dan seiring dengan pemberian makanan
tambahan pada bayi. Namun, amenorea laktasi tampaknya memberi kontrasepsi yang
cukup baik selama sekitar 6 bulan (Lewis et al, 1991) walaupun mungkin lebih
berefek pada penjarangan kehamilan.
Banyak wanita yang sengaja membatasi jumlah anak yang mereka
inginkan. Banyak masalah ekonomi dan sosial yang berhubungan dengan hal ini;
namun, perlu diketahui bahwa terdapat sebagian wanita yang kepadanya sebagian
(atau semua) metode kontrasepsi tidak dapat diterapkan atas alasan keagamaan atau
budaya. Pemulihan kesuburan sangat sulit dinilai karena berbagai faktor, misalnya
menyusui, praktik budaya dan agama, variasi genetik dan penyakit dapat mempengaruhi
identifikasi pulihnya siklus kesuburan. Perlu ditekankan bahwa ovulasi mendahului
haid sehingga amenorea tidak menjamin fertilitas tidak ada.
PERAN BIDAN
Biasanya sebagian besar wanita dipulangkan dari asuhan
kebidanan pada hari ke-10; namun, bidan dapat melakukan kunjungan sampai hari
ke-28 dalam periode pascanatal apabila diperlukan. Apabila bidan sudah puas dengan
transisi fisiologis yang berlangsung, pengontrolan dapat dihentikan. Health
visitor (petugas kesehatan lapangan) dan dokter umum (general practitioner)
dapat melanjutkan perawatan ibu dan bayinya. Tanggung jawab bidan dalam masa
nifas dan setelah pasien dipulangkan antara lain memberi nasihat kepada ibu
yang bersangkutan mengenai sejumlah masalah, misalnya pemberian makan bayi,
seni menjadi orang tua, latihan dasar panggul, kontrasepsi, dan tempat ibu
dapat mencari bantuan psikoiogis.
PENYULIT PADA
MASA NIFAS
Gangguan
Tromboemboli
Peningkatan kemungkinan pembentukan bekuan darah dapat merugikan
secara fisiologis, baik sewaktu hamil maupun setelah persalinan karena dapat
terbentuk trombus (bekuan darah) di dalam sistem vena. Gangguan tromboemboli relatif
sering terjadi pada kehamilan. Selama trimester ketiga, wanita hamil mengalami
keadaan hiperkoagulasi sehingga darahnya lebih mungkin mengalami pembekuan
daripada wanita tidak hamil, sementara efek progesteron pada tonus otot vena
meningkatkan stasis aliran. Risiko gangguan tromboemboli pada kehamilan adalah
sekitar enam kali lebih tinggi daripada sebelumnya, dan semakin meningkat pada
masa nifas. Hal ini diperberat oleh menurunnya aktivitas fibrinolitik
(penguraian fibrin yang membentuk bekuan darah) dan peningkatan konsentrasi
faktor pembekuan. Kecenderungan darah untuk membeku ini memberi keuntungan
fisiologis bagi wanita karena mencegah pengeluaran darah berlebihan selama dan
segera setelah pengeluaran plasenta dan selaput ketuban. Hemokonsentrasi akibat
diuresis fisiologis setelah persalinan memperkuat peningkatan faktor pembekuan.
Tromboflebitis
Tromboflebitis adalah adanya trombus (bekuan) di vena superfisial.
Tempat tersering pembentukan trombus adalah di vena safena di betis. Gejala
meliputi adanya daerah kemerahan yang nyeri di atas vena yang mengalami
trombosis dan mungkin peningkatan ringan denyut nadi dan suhu. Motilitas dan
elevasi tungkai saat istirahat mengurangi risiko pembentukan trombus; kaus kaki
(stocking) kompresi mungkin bermanfaat. Tromboflebitis kecil kemungkinannya
berkembang menjadi emboli paru.
Trombosis Vena
Profunda
DVT lebih jarang terjadi, tetapi dapat menyebabkan
terlepasnya bekuan, yang kemudian menyebabkan emboli paru. Miperkoagulabilitas
meningkat seiring dengan peningkalnn usia ibu, paritas, dehidrasi setelah
persalinan, dan persalinan melalui seksiosesaria. Wanita berisiko lebih besar apabila
mereka memiliki riwayat gangguan trombos embolus, hipertensi akibat kehamilan
(dan tidak terjadinya ekspansi vaskular), anemia, atau apabila mereka memiliki katup
jantung buatan atau pernah melahirkan dengan operasi (Weiner, 1985). Secara
klinis telah diamati bahwa terjadi peningkatan risiko DVT di tungkai bawah kiri
terutama setelah seksio sesaria, karena kecepatan aliran darah paling rendah
(Macklon & Greer, 1997). DVT mungkin tidak rnenimbulkan gejala atau wanita
mungkin merasa nyeri dan mengalami pembengkakan di daerah yang terkena dan
kadang-kadang demam. Mungkin terjadi perbedaan mencolok dalam ukuran betis
atau, pada kasus yang ekstrem, sirkulasi ke tungkai di bawah trombosi. mungkin berpengaruh
sehingga tungkai tampak pucat dan dingin serta mungkin edema. DVT dikonfirmasi
dengan pemeriksaan ultrasonografi Doppler atau impedance plethysmography.
Embolus Paru
Embolus paru (EP) adalah suatu kedaruratan obstetrik yang
mungkin terjadi setelah DVT atau timbul tanpa peringatan terlebih dahulu. EP
adalah suatu penyakit yang berperan meningkatkan mortalitas ibu yang berkaitan
dengan kehamilan. Apabila suatu trombus (potongan bekuan darah) terlepas dan
masuk ke sistem vena, trombus tersebut akan disalurkan oleh sistem vena ke sisi
kanan jantung dan ke sirkulasi paru. Karena arteri paru semakin kecil
ukurannya, trombus dapat menyumbat pembuluh arteri di dalam paru sehingga terjadi
kerusakan besar. Gejala mencakup pingsan mendadak, nyeri dada akut yang hebat,
dispnea, sianosis, hemoptisis, dan syok. Wanita dengan EP akan memerlukan
pengobatan dan perawatan intensif.
Wanita yang dianggap berisiko mengalami pembentukan trombus
diterapi dengan antikoagulan profilaksis, misalnya heparin dan analog sintetik,
seperti enoksaparin. DVT biasanya diobati dengan heparin, dan apabila diperlukan
terapi antikoagulan jangka panjang, biasanya digunakan warfarin.
Risiko Infeksi
Pada masa nifas, wanita berisiko besar mengalami infeksi
terutama yang berkaitan dengan saluran genitalia, sistem kemih, payudara, dan
tempat tromboflebitis. Bekas perlekatan plasenta, laserasi, dan insisi perineum
serta sistem kemih yang kendor merupakan tempat yang rentan. Lokia merupakan
medium biakan yang ideal bagi mikroorganisme. Faktor predisposisi lain mencakup
anemia, kelebihan, malnutrisi, persalinan traumatik, dan adanya sisa jaringan
di uterus. Baik infeksi ibu maupun neonatus (lihat Bab 15), dapat disebabkan
oleh organisme endogen atau eksogen.
Gejala infeksi mencakup pireksia (sampai 40°C) takikardia (sampai
140 denyut per menit), subinvolusi uterus, kepala, malaise, nyeri abdomen
bawah, dan lokia yang banyak dan berbau. Infeksi pada fase akut dapat
menghambat laktasi. Dalam memilih antibiotik untuk mengobati infeksi pada masa
nifas, kita perlu mempertimbangkan apakah wanita yang bersangkutan menyusui
bayinya serta kemungkinan efek penyaluran obat melalui air susu.
Contoh mikroorganisme penyebab Infeksi masa nifas :
ü Endogen
-
Escherichia coli
-
Clostridium perfringens
-
Streptococcus faecalis
-
Pseudomonas aerugiriosa
ü Eksogen
-
Slreplokokusp β-hemolitik
-
Staphiylococcus aureus
Nyeri Payudara
Dan After-Pains
Masalah menyusui dibahas secara lebih rinci di Bab 16; ini perlu
dibahas dua masalah umum yang dapat terjadi masa nifas yang berkaitan dengan
menyusui.
Apabila bayi diletakkan dengan posisi yang kurang tepat,
sering karena ia menangis atau lapar dan ingin terus diberi makan, puting
payudara dapat lecet, terbelah, dan berdarah. Rusaknya integritas kulit puting
susu meningkatkan risiko mastitis-infeksi lokal asendens yang biasanya
disebabkan oleh Staphylococcus aureus. Wanita yang mengalami masalah menyusui
dini memerlukan banyak bantuan dan dorongan. Bayi perlu "difiksasi"
atau "dikancing" dengan nyaman dan benar agar stimulasi puting
payudara adekuat sehingga dapat tercipta siklus makan.
Kadang-kadang payudara membengkak atau teregang. Pada
awalnya, hal ini disebabkan oleh sistem vena karena meningkatnya vaskularisasi
payudara. Namun, saat terjadi peningkatan produksi air susu, payudara mungkin
pada awalnya berproduksi secara berlebihan. Payudara mungkin dipenuhi oleh air
susu sehingga teregang dan mengeras, yang mungkin menimbulkan rasa tidak nyaman
atau nyeri. Bayi mungkin memerlukan bantuan agar memperoleh posisi yang nyaman;
namun, setelah siklus makan tercipta, akan tercapai keseimbangan antara
permintaan-penyediaan sehingga masalah pembengkakan payudara akan mereda.
Pada sebagian besar persalinan di Inggris, kala tiga
ditangani secara aktif, bukan pasif atau fisiologis, ketika wanita melahirkan
plasenta secara alamiah (lihat Bab 13). Namun, pemberian obat tokolitik,
misalnya sintometrin, yang mengandung ergotamin, dapat menimbulkan efek samping
setelah kala tiga selesai misalnya :
-
Mual dan muntah
-
Peningkatan transien tekanan darah
-
Palpitasi dan takikardia
-
Nyeri dada
-
Nyeri kepala
Juga selama masa nifas, wanita mungkin menderita efek samping
obat penghilang nyeri saat persalinan. Petidin dapat menimbulkan rasa
mengantuk, rasa lelah, dan mual pada ibu serta mengurangi insting mengisap
puting payudara pada bayi sehingga proses makan dapat terganggu. Efek anestetik
epidural mungkin berlangsung beberapa jam sebelum benar-benar hilang sehingga
mobilitas dan kemampuan mengeluarkan air kemih ibu dapat terganggu.
Masalah
psikologis
Wanita pada masa pascapartus mengalami peningkatan kerentanan
terhadap gangguan afektif, misalnya postpartum blues (kesedihan pascapartus),
depresi, dan psikosis. Diperkirakan lebih dari separuh wanita pada masa nifas mengalami
gangguan emosional transien pada sekitar hari ke-3 yang disebut sebagai
"the blues" (Kumar, 1985). Sepuluh persen lainnya benar-benar mengalami
depresi, yang awitan dan pemulihannya lebih lambat. Sebagian kecil wanita
(0,2%) mengalami penyakit psikotik berat berkepanjangan setelah melahirkan. Walaupun
banyak dari kasus ini mungkin dapat dikenali pada masa pascanatal dini,
sebagian baru muncul belakangan. Gejala tertentu diketahui penting dalam diagnosis
depresi pascanatal.
Tanda klasik depresi pascanatal
-
Suasana hati tertekan
-
Gangguan tidur yang tidak berkaitan dengan rasa
tidak nyaman atau bangunnya bayi'
-
Tidak dapat mengatasi masalah rasa bersalah
-
Pikiran yang menyakiti diri atau bayi
-
Penolakan bayi
-
Rasa cemas
Etiologi gangguan depresif ini belum sepenuhnya dipahami.
Segera setelah melahirkan, bayi akan sering minum dan hal ini meningkat pada malam
hari sehingga ibu mengalami kelelahan. Pada awalnya, kelelahan ibu teratasi
oleh perasaan lega dan gembira yang kuat atas kelahiran bayinya. Namun pada hari
ke-3, wanita dapat menjadi emotional, mudah menangis, dan kelelahan, serta
memerlukan dorongan dan kenyamanan selama periode ini. Penurunan hormon secara
fisiologis ditandai oleh dimulainya laklogenesis secara penuh setelah produksi
inisial berupa kolostrum dalam jumlah terbatas (lihat Bab 16). The blues terjadi
bersamaan dengan laktasi, pembengkakan payudara, nyeri perineum, dan nyeri
luka.
Secara kontioversial dihipotesiskan penghentian progesteron
menyebabkan depresi (Dalion, 1980); suposiloria progesteron (mis., Cyclogest) pernah
digunakan secara profilaktis untuk mengobati wanita dengan riwayat depresi pascanatal,
tetapi penelitian ini dikritik karena kurang ketatnya persyaratan ilmiah dan
lemahnya kontrol. Estrogen juga dikaitkan dengan perasaan sejahtera (Brace
& McCaule, 1997); perubahan mendadak kadar estrogen seperti yang dialami
pada masa nifas mungkin mempengaruhi pengeluaran neurotransmitter.
Penulis lain berpendapat bahwa kadar kortisol atau β endorfin
memiliki keterkaitan lebih erat dengan depresi ; pascanatal (Harris et al,
1996). Aksis hipotalamus-hipofisis-adrenal sangat aktif pada trimester ketiga
seiring dengan peningkatan produksi CRH oleh plasenta dan penurunan kadar
protein pengikat CRH. Penekanan sekresi CRH hipotilamus diperkirakan berperan
dalam etiologi depresi pascanatal (Magiakou et al., 1996). Hubungan antara
menyusui dan depresi pascanatal masih kontroversial. Namun, hormon yang
berperan dalam laktasi memengaruhi kadar kortibol (Amico, Johnston, &
Vagnucci, 1994). Laktasi juga menyebabkan ibu rentan terhadap depresi karena
terjadi isolasi dan peningkatan kelelahan. Dengan pengobatan yang tepat dan
dukungan, wanita yang mengalami depresi pascanatal akan pulih dengan baik.
Program olahraga terbukti secara bermakna mengurangi rasa cemas dan depresi
pada masa nifas (Koltyn & Schultes, 1997). Rekurensi depresi pascanatal
tinggi sehingga wanita yang berisiko perlu diidentifikasi.
Studi kasus 14.4 merupakan contoh penjiilit hormonal pada masa
nifas.
Studi Kasus
Saat melahirkan
menderita perdarahan hebat yang dikendalikan sehingga akhirnya ia harus
menjalani histerektomi setelah kehilangan darah total lebih dari 4 liter Pemulihannya
berlangsung biasa tetapi dalam 6 bulan la didiagnosis sindrom Sheehan yaitu
nekrosis kelenjar hipofisis.
-
Bagaimana gejala-gejala sindrom tersebut?
-
Fungsi endokrin mana yang akan terganggu akibat
penyakit ini ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar